You are here:

Gula Manis, Hati Menangis: Kenali Bahaya Fatty Liver Sejak Dini

SIDOARJO – Tren minuman manis kekinian, seperti kopi susu dengan tambahan brown sugar, sirup, dan krimer, kini telah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, terutama di kalangan anak muda dan Gen Z. Di balik rasanya yang lezat dan menyegarkan, kebiasaan mengonsumsi minuman manis secara berlebihan ternyata menyimpan ancaman serius bagi kesehatan organ hati.

Untuk mengupas tuntas bahaya ini, mari simak pembahasan lengkap bersama dr. Renny Anggraeni Puspitasari, Sp.PD, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam terbaik di RSI Siti Hajar Sidoarjo.

1. Hubungan Antara Kopi Kekinian yang Manis dengan Fatty Liver
Saat ini, tren penikmat kopi terbagi menjadi beberapa kelompok, mulai dari tim americano hingga tim kopi manis dengan susu dan krimer. Pada dasarnya, mengonsumsi kopi kekinian tentu diperbolehkan asalkan tidak berlebihan. Namun, kita harus tetap mewaspadai dampaknya di kemudian hari. Jika Anda memilih americano tanpa tambahan gula, minuman ini relatif aman. Masalahnya muncul pada kopi kekinian yang menggunakan pemanis seperti brown sugar yang kaya akan fruktosa.
“Kalau glukosa bisa digunakan oleh seluruh bagian tubuh kita, tetapi kalau fruktosa, ia lebih cenderung diproses dan digunakan oleh hati. Bisa dibayangkan, ya, bagaimana dampaknya jika konsumsi fruktosa ini berlebihan?” jelas dr. Renny.

Ketika beban kerja hati terlalu berat akibat kelebihan fruktosa, hati akan mengubah kelebihan tersebut menjadi trigliserida (kadar lemak). Penumpukan trigliserida inilah yang dalam jangka panjang memicu terjadinya perlemakan hati atau fatty liver.

2. Mengapa Fatty Liver Disebut Sebagai Silent Killer bagi Anak Muda?
Banyak yang mengira bahwa fatty liver atau perlemakan hati hanya menyerang orang Usia lanjut. Padahal, kondisi ini juga mengintai anak muda dan sering dijuluki sebagai bahaya tersembunyi (silent killer).
– Alasannya sederhana namun berbahaya: penyakit ini tidak bergejala di tahap awal.
– Organ hati tidak memiliki reseptor nyeri, sehingga tidak ada keluhan sakit yang menusuk atau nyeri hebat saat terjadi penumpukan lemak.
– Proses kerusakan berjalan sangat lambat dan membutuhkan waktu bertahun-tahun (bisa 10 hingga 20 tahun).
Kondisi ini dapat berkembang dari perlemakan hati, menjadi fibrosis (jaringan parut pada hati), sirosis, hingga berisiko menjadi kanker hati di kemudian hari. Gejala awal yang dirasakan seringkali hanya berupa rasa tidak nyaman atau begah di perut, yang kerap disangka sebagai asam lambung naik (GERD), sehingga sering diabaikan oleh penderita.

3. Apakah Orang Bertubuh Langsing Bisa Terkena Fatty Liver?
Banyak yang menduga bahwa perlemakan hati hanya menyerang orang dengan obesitas atau bertubuh gemuk. Faktanya, orang yang bertubuh langsing atau kurus pun tetap rentan terkena fatty liver.

Prinsip utamanya terletak pada pola konsumsi harian. Jika seseorang terlalu sering mengonsumsi makanan dan minuman tinggi fruktosa, beban hati akan tetap berat terlepas dari bentuk tubuhnya. Oleh karena itu, orang yang tidak gemuk juga harus tetap waspada dan rutin mengecek kadar trigliserida serta kolesterolnya jika memiliki kebiasaan mengonsumsi produk manis kekinian.

4. Langkah Deteksi Dini: Pemeriksaan Apa Saja yang Perlu Dilakukan?
Agar Gen Z dan masyarakat luas bisa lebih waspada, deteksi dini sangat penting dilakukan. dr. Renny Anggraeni Puspitasari, Sp.PD, FINASIM menyarankan beberapa langkah pemeriksaan awal:

– Cek Profil Lipid: Untuk mengetahui kadar kolesterol total serta kadar trigliserida di dalam darah.
– Tes Fungsi Hati: Memeriksa enzim hati melalui tes darah SGOT dan SGPT.
– USG Abdomen: Pemeriksaan USG pada area perut untuk melihat secara langsung kondisi dan struktur organ hati, apakah sudah ada tanda-tanda perlemakan atau belum.

5. Tips Aman Menikmati Kopi Kekinian Tetap Sehat
Tren menikmati kopi tentu tidak harus ditinggalkan sepenuhnya. Kunci utamanya adalah menikmati tren secara bijak dan sehat. Berikut adalah tips dari dr. Renny agar Anda tetap bisa ngopi tanpa merusak kesehatan hati:

– Pilih Americano: Biasakan beralih ke kopi hitam tanpa gula atau americano sebagai pilihan utama.
– Kurangi Takaran Gula (Less Sugar): Jika belum terbiasa tanpa gula, mulailah mengurangi tingkat manisnya secara bertahap.
– Pilih Susu yang Tepat: Jika menyukai kopi susu, pilihlah jenis susu yang plain (tanpa rasa) atau low-fat (rendah lemak).
– Hindari Tambahan Berlebih: Meminimalisir atau menghindari tambahan kalori kosong seperti ekstra brown sugar, sirup perasa, krimer berlebih, dan topping manis lainnya.

Yuk, sayangi kesehatan organ hati kita mulai dari sekarang! Batasi konsumsi gula berlebih, imbangi dengan gaya hidup aktif, dan lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Bagikan: