You are here:

Laki-Laki Menderita dalam Diam: Mengenal Maskulin Toxic dan Depresi Terselubung pada Pria

RSI SitI Hajar – Fenomena gangguan kesehatan jiwa pada pria kian marak ditemui dalam ruang praktik psikiatri. Sayangnya, sebagian besar pasien pria datang dalam kondisi yang sudah terlambat atau berada pada fase kronis. Hal ini dipicu oleh stigma sosial berlapis yang menuntut pria untuk selalu tampil kokoh tanpa celah, sehingga mereka memilih untuk memendam penderitaan psikisnya seorang diri.

Meluruskan Miskonsepsi Istilah Maskulin Toxic
Terdapat miskonsepsi besar di masyarakat yang perlu diluruskan secara medis dan sosiologis. Istilah maskulin toksik (toxic masculinity) bukan berarti menjadi seorang pria atau memiliki Sifat maskulin adalah sebuah kesalahan atau hal yang beracun. Istilah ini merujuk pada tekanan sosial serta konstruksi budaya sempit yang memaksa pria untuk memenuhi standar perilaku tertentu yang rigid.

Di bawah bayang-bayang budaya ini, seorang pria dipaksa untuk selalu kuat secara absolut, diharamkan mengekspresikan emosi sedih, dilarang menangis, dan didoktrin bahwa mencari bantuan profesional adalah bentuk kelemahan emosional. Ketika seorang pria dipaksa hidup di dalam “kotak” batasan struktural tersebut, mereka kehilangan ruang psikologis untuk tumbuh menjadi manusia yang utuh. Akibatnya, saat menghadapi hantaman krisis hidup baik berupa tekanan finansial, kegagalan karier, maupun konflik keluarga mereka rentan mengalami krisis maskulinitas karena merasa gagal memenuhi standar fiktif sebagai “pria sejati” di mata lingkungannya.

“Banyak pasien pria saya yang datang secara diam-diam ke ruang praktik tanpa sepengetahuan keluarga mereka. Mereka merasa bahwa meminta bantuan profesional seperti psikiater akan menjatuhkan harga diri mereka di hadapan sosial. Padahal, berani mengakui bahwa diri kita sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan bantuan adalah bentuk keberanian tertinggi seorang manusia.” dr. Azizah, Sp.KJ

  • Stigma Berlapis: Beban Sosio-Kultural Pria
    Secara kultural, masyarakat menempatkan figur pria pada posisi absolut sebagai penyedia (provider) dan pelindung (protector). Konstruksi sosial ini memicu ketakutan internal yang masif pada diri pria. Ketika jiwa mereka sedang terluka, muncul kecemasan mendalam bahwa mereka akan dicap sebagai produk gagal, lemah, atau tidak kompeten dalam menjalankan peran gendernya. Beban ekspektasi inilah yang membuat pria cenderung memilih taktik koping yang keliru, yakni mengisolasi emosi mereka.
  • Depresi Terselubung: Manifestasi Gejala Klinis pada Pria
    Berbeda dengan wanita yang manifestasi klinis depresinya cenderung terlihat jelas lewat ekspresi kesedihan atau menangis, depresi pada pria sering kali bersifat terselubung (masked depression). Pria cenderung mengekspresikan distres emosionalnya melalui perilaku yang dianggap “lebih maskulin” oleh lingkungan sosial, sehingga kerap menipu orang-orang di sekitarnya.

Berikut adalah beberapa tanda klinis depresi terselubung pada pria yang wajib diwaspadai:

  • Iritabilitas Tinggi: Pria menjadi sangat mudah marah, tersinggung, gampang mengamuk, atau reaktif terhadap hal-hal sepele yang seharusnya tidak memicu emosi besar. Jika Anda melihat pria yang tiba-tiba emosionalnya tidak stabil dan mudah meledak-ledak, jangan langsung melabeli mereka ‘galak’. Bisa jadi itu adalah jeritan minta tolong karena ia sedang mengalami depresi.
  • Pelarian Ekstrem: Munculnya perilaku gila kerja (workaholism) sebagai bentuk pengalihan pikiran, kecanduan gim (game) secara berlebihan, hingga penyalahgunaan zat berbahaya (seperti konsumsi alkohol dan rokok yang meningkat drastis).
  • Perilaku Impulsif: Adanya kecenderungan melakukan tindakan berisiko tinggi tanpa memikirkan keselamatan diri, seperti mengebut di jalan raya atau melakukan tindakan berbahaya lainnya.

Dampak Fatal Penderitaan dalam Diam (Silent Suffering)
Dampak paling fatal dan paling dikhawatirkan dari fenomena silent suffering ini adalah tindakan melukai diri sendiri hingga tindakan bunuh diri (suicide). Berdasarkan data statistik kesehatan mental global maupun nasional, wanita memang menempati posisi tertinggi dalam hal diagnosis klinis depresi. Namun, angka kematian absolut akibat bunuh diri justru ditemukan jauh lebih tinggi pada kelompok pria.

Mengapa hal ini terjadi? Karena pria menderita dalam diam. Ketika beban psikologis tersebut menumpuk tanpa adanya katarsis emosional atau intervensi medis, keputusan akhir yang diambil sering kali bersifat sangat impulsif, ekstrem, dan mematikan. Selain berdampak pada risiko kematian dini, stres kronis yang dipendam ini juga merusak kesehatan fisik secara sistemik, memicu timbulnya penyakit hipertensi, serangan jantung koroner, hingga gangguan kecemasan akut.

Langkah Nyata Menyediakan Ruang Aman
Untuk memutus rantai lingkaran setan ini, peran keluarga dan lingkungan terdekat sangatlah krusial. Kunci utamanya adalah menyediakan ruang aman tanpa penghakiman (non-judgmental safe space) melalui langkah-langkah berikut:

  • Validasi Emosinya: Hentikan kalimat toksik seperti “Masa masalah seperti itu saja kamu stres?” atau “Kamu kan laki-laki, harus kuat.” Ubah pendekatan dengan validasi yang menenangkan: “Tidak apa-apa jika kamu merasa lelah saat ini. Aku ada di sini untuk mendengarkanmu.”
  • Jangan Menggurui: Pria memiliki kecenderungan defensif apabila langsung diceramahi saat emosinya belum stabil. Dengarkan keluh kesahnya terlebih dahulu hingga selesai secara tuntas.
  • Normalisasi Layanan Kesehatan Jiwa: Edukasi dan bantu mereka untuk memahami bahwa berkonsultasi ke Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Sp.KJ) di RSI Siti Hajar Sidoarjo adalah hal yang sepenuhnya normal. Memeriksakan kesehatan mental sama normalnya dengan datang ke dokter gigi saat mengalami sakit gigi.

Langkah ini bukanlah tanda kegilaan atau kegagalan sebagai pria, melainkan bukti nyata bahwa Anda peduli pada masa depan diri dan keluarga. Jangan biarkan orang-orang yang anda cintai berjuang dalam kesunyian. Jika anda atau kerabat pria menunjukkan tanda-tanda depresi terselubung, segera konsultasikan kesehatan mental anda bersama tim Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Sp.KJ) di Rumah Sakit Islam Siti Hajar Sidoarjo.

Kami berkomitmen menyediakan layanan kesehatan jiwa yang aman, profesional, rahasia, dan bebas dari stigma.

Bagikan: