RSI SITI HAJAR – Pertumbuhan anak merupakan proses kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar tubuh. Salah satu sistem tubuh yang berperan besar dalam proses ini adalah sistem endokrin, yaitu sistem yang mengatur keseimbangan hormon di dalam tubuh.
Menurut Dr. dr. Muhammad Faizi, Sp.A, Subsp.Endo, Dokter Spesialis Endokrinologi RSI Siti Hajar Sidoarjo, hormon-hormon inilah yang menjadi pengendali utama berbagai proses biologis, termasuk pertumbuhan tinggi badan, perkembangan organ, serta kematangan fisik dan reproduksi pada masa remaja.
Dokter Fauzi juga menjelaskan lebih lanjut tentang peran penting hormon dalam pertumbuhan, serta hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua.
Pertama tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan anak. Menurut dr. Faizi, pertumbuhan anak tidak hanya bergantung pada satu faktor saja, melainkan dipengaruhi oleh beberapa hal penting.
“Pertama adalah faktor genetik, yakni bagaimana tinggi badan orang tua turut menentukan tinggi badan anak sekitar 70–80 persen,” kata dia.
Selain faktor genetik, nutrisi atau asupan makanan juga berperan besar. Anak yang mendapatkan gizi seimbang dan cukup akan memiliki peluang tumbuh lebih optimal. Namun, faktor yang tidak kalah penting adalah hormon-hormon dalam tubuh.
Hormon pertumbuhan (growth hormone), hormon tiroid, serta hormon-hormon lain seperti insulin dan hormon seks (estrogen dan testosteron) memiliki peran krusial dalam mengatur pertumbuhan tulang, otot, dan jaringan tubuh lainnya. Ketidakseimbangan hormon dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, baik berupa keterlambatan maupun percepatan yang tidak sesuai dengan usia anak.
Kedua, tentang cara orangtua memantau pertumbuhan anak. Disampaikan bahwa banyak orang tua yang merasa khawatir apabila anak terlihat lebih kecil dibanding teman sebayanya. Menurut dr. Faizi, hal utama yang perlu dilakukan adalah pemantauan pertumbuhan secara rutin dan terukur.
“Satu-satunya cara yang paling penting adalah memantau pertumbuhan anak. Pemantauan itu bukan hanya dengan melihat, tetapi juga membandingkan dengan anak-anak seusianya,” ujarnya. Pemantauan yang tepat dilakukan dengan mengukur tinggi dan berat badan secara berkala, kemudian mencatat hasilnya pada kurva pertumbuhan. Kurva tersebut dapat membantu orang tua maupun tenaga medis menilai apakah pertumbuhan anak berada dalam kategori normal atau mengalami gangguan.
Jika hasil pengukuran menunjukkan bahwa pertumbuhan anak tidak sesuai dengan kurva normal, sebaiknya orang tua segera berkonsultasi dengan dokter, terutama dokter spesialis endokrinologi anak.
Ketiga, terkait gangguan pertumbuhan yang sering terjadi. dr. Faizi menjelaskan bahwa gangguan pertumbuhan paling sering ditemukan pada anak dengan perawakan pendek. Namun, tidak semua kondisi tersebut disebabkan oleh kelainan hormon.
“Kalau berbicara mengenai gangguan pertumbuhan, utamanya anak-anak yang pendek, sekitar 80 persen biasanya bersifat fisiologis,” urainya.
Kondisi fisiologis yang dimaksud meliputi Familial Short Stature (FSS), yaitu anak tumbuh normal tetapi secara genetik memiliki orang tua dengan postur pendek.
Kemudian Constitutional Delay of Growth and Puberty (CDGP), yakni kondisi di mana anak mengalami keterlambatan pertumbuhan dan pubertas yang juga dapat dipengaruhi oleh faktor keturunan.
Meski demikian, sebagian kecil kasus perawakan pendek dapat disebabkan oleh gangguan hormon pertumbuhan atau masalah medis lainnya, sehingga penting bagi orang tua untuk melakukan evaluasi medis bila pertumbuhan anak tampak menyimpang dari kurva normal.(tim humas)









