RSI SITI HAJAR – Baru-baru ini, jagat media sosial sering membahas tentang infeksi gigi yang bisa menyebar ke organ vital seperti otak dan jantung. Benarkah persoalan gigi bisa sampai merembet ke nyawa?
Untuk mengupas hal ini, drg Nadya Sania dari RSI Siti Hajar membagikan fakta-fakta medis yang perlu kita ketahui agar tidak salah langkah dalam menangani kesehatan gigi.
Bagaimana Infeksi Gigi Terjadi?
Infeksi gigi biasanya bermula dari bakteri yang masuk ke jaringan gigi akibat lubang yang dalam atau gigi patah yang dibiarkan terbuka. Jika tidak segera ditangani, bakteri ini akan berkembang biak dan membentuk abses gigi sebuah kantong berisi nanah yang menyebabkan nyeri hebat serta pembengkakan.
Banyak orang mengira infeksi akan berhenti di situ. Padahal, jika sumber infeksi (lubang atau sisa akar gigi) tidak dibersihkan, bakteri sedang mencari jalan untuk “berwisata” ke bagian tubuh lainnya.
Fakta atau Mitos: Bisa Menyebar ke Otak dan Jantung?
Jawaban singkatnya: FAKTA.
Dokter Nadya menegaskan bahwa infeksi gigi yang berat dapat menyebar melalui pembuluh darah, jaringan ikat, atau rongga sinus. Komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:
– Selulitis: Infeksi pada jaringan lunak wajah dan leher yang menyebabkan bengkak besar.
– Meningitis atau Abses Otak: Bakteri menjalar ke selaput otak atau jaringan otak, yang merupakan kondisi darurat medis.
– Endokarditis Bakterial: Ini adalah kondisi di mana bakteri dari mulut menempel pada katup jantung. Jika tidak dideteksi dini, hal ini bisa memicu gagal jantung hingga kematian.
Waspadai “Lampu Kuning” dari Gigi Anda
Jangan menunggu sampai pipi membengkak besar untuk pergi ke dokter. Segera konsultasikan ke dokter gigi di RSI Siti Hajar jika Anda mengalami gejala berikut:
- Nyeri gigi yang berdenyut sangat kuat.
- Gusi membengkak atau keluar nanah.
- Wajah atau pipi mulai tidak simetris (bengkak).
- Demam tanpa sebab yang jelas.
- Trismus: Kondisi sulit membuka mulut atau sakit saat menelan.
Bahaya Tersembunyi: Obat Racikan dan Antibiotik Sembarangan
Salah satu kebiasaan buruk masyarakat adalah mengobati diri sendiri dengan membeli obat nyeri atau antibiotik “sisa” di warung. Dokter Nadya memberikan peringatan keras akan hal ini.
“Obat nyeri hanya menghilangkan gejala, bukan sumber infeksinya. Lebih bahaya lagi jika minum antibiotik sembarangan; bakteri bisa menjadi kebal (resistensi). Infeksinya hanya ‘tidur’ sebentar, lalu akan bangun lagi dengan kondisi yang jauh lebih parah,” jelas drg. Nadya.
Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati
Kabar baiknya, komplikasi mengerikan di atas sangat bisa dicegah dengan langkah sederhana:
– Sikat gigi minimal dua kali sehari (pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur).
– Gunakan benang gigi (dental floss) untuk membersihkan sela-sela yang tak terjangkau sikat.
– Segera tumpat (tambal) gigi yang mulai berlubang sebelum mencapai saraf.
– Rutin kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk pembersihan karang gigi dan deteksi dini.
Kesimpulan
Sakit gigi bukan sekadar urusan mulut. Kesehatan gigi adalah gerbang utama kesehatan tubuh secara keseluruhan. Jangan sepelekan lubang kecil hari ini jika Anda tidak ingin menghadapi risiko besar di kemudian hari. Jika Anda memiliki keluhan gigi, tim medis RSI Siti Hajar siap membantu Anda dengan pelayanan yang profesional dan nyaman. Yuk, rutin periksa gigi demi jantung dan otak yang sehat!








