SIDOARJO – Sabtu pagi selalu memiliki caranya sendiri untuk menghadirkan suasana yang lebih santai. Di bawah rindangnya pepohonan, ditemani semilir angin dan secangkir kopi hangat, obrolan ringan pun mengalir tanpa sekat. Seperti lazimnya para pecinta sepak bola, pembahasan diawali dengan mengenang pertandingan Piala Dunia kala itu yang masih menyisakan rasa kecewa bagi sebagian pendukung Argentina. Meski hasil di lapangan tak selalu sesuai harapan, Bupati Sidoarjo, H. Subandi, yang masih mengenakan kaus kebanggaan Timnas Argentina menjadi bukti sederhana bahwa sejatinya, fans tetaplah fans. Dalam kesempatan itu beliau juga menegaskan bahwa dunia olahraga di Sidoarjo harus terus tumbuh dan menjadi ruang pemersatu masyarakat, tempat lahirnya semangat juang, sportivitas, dan kebanggaan daerah. Beliau menyampaikan pesan bahwa makna mengenakan kostum Argentina bukan sekadar dukungan pada tim, tetapi simbol semangat pantang menyerah—bahwa meskipun hanya menjadi runner up, tidak boleh ada kata menyerah, harus terus move up menjadi juara 1, terus berjuang merebut posisi terbaik dengan tekad kuat. Semangat inilah yang dirangkum dalam tagline “Sidoarjo wayahe juara”.
Suasana semakin hangat ketika terselip cerita dari Direktur RSI Siti Hajar Sidoarjo yang sebenarnya telah menyiapkan kaos Manchester United, klub kesayangannya, untuk dikenakan pada pertemuan tersebut. Namun, karena sebelumnya diperoleh informasi bahwa seluruh peserta akan mengenakan batik, niat itu pun diurungkan. Candaan ringan mengenai kecintaan terhadap sepak bola justru mencairkan suasana sebelum pembicaraan bergeser pada persoalan yang jauh lebih serius.
Gelak tawa sesekali pecah di antara percakapan. Tidak ada suasana formal yang kaku, melainkan kebersamaan yang hangat antara pemerintah daerah, unsur TNI, serta para pemangku kepentingan kesehatan. Pertemuan nonformal sebelum acara inti tersebut membuktikan bahwa ruang-ruang sederhana sering kali menjadi tempat lahirnya komunikasi yang lebih terbuka, lebih jujur, dan lebih mudah menemukan titik temu dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
Namun, di balik obrolan ringan tersebut, tersimpan pembahasan yang jauh lebih penting. Isu HIV/AIDS yang belakangan menunjukkan tren peningkatan atau “melonjak” di masyarakat Sidoarjo menjadi salah satu topik yang didiskusikan bersama. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena penanganannya tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas pelayanan kesehatan, melainkan memerlukan kolaborasi lintas sektor, edukasi yang berkesinambungan, serta kepedulian bersama untuk menekan angka penularan. Semua pihak sepakat bahwa penanganan HIV/AIDS harus dimulai dari upaya promotif dan preventif yang kuat. Edukasi mengenai kesehatan reproduksi, pencegahan penyakit menular seksual, pentingnya perilaku hidup sehat, serta keberanian melakukan skrining sejak dini harus terus diperluas. Di sisi lain, pelayanan kuratif dan rehabilitatif juga harus mampu memberikan pendampingan medis, psikologis, dan sosial secara menyeluruh sehingga setiap individu memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak tanpa rasa takut maupun stigma.
RSI Siti Hajar Sidoarjo memandang bahwa tantangan kesehatan masyarakat hanya dapat dijawab melalui kolaborasi yang berkelanjutan. Sebagai rumah sakit yang memiliki komitmen kuat dalam pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, RSI Siti Hajar terus memperkuat edukasi kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan penyuluhan, media sosial, komunitas, serta program kesehatan berbasis masyarakat. Rumah sakit juga terus meningkatkan akses skrining, konsultasi, dan pelayanan medis yang profesional sesuai indikasi klinis, sekaligus menghadirkan pendampingan rehabilitatif bagi pasien yang membutuhkan.
Belakangan ini, masyarakat juga dihadapkan pada maraknya pembahasan mengenai berbagai perilaku seksual berisiko yang menjadi perhatian publik. RSI Siti Hajar Sidoarjo menegaskan komitmennya untuk mendukung perilaku hidup sehat serta menolak segala bentuk perilaku yang meningkatkan risiko penularan penyakit. Namun demikian, siapa pun yang membutuhkan pertolongan medis tetap berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang profesional, penuh empati, dan tanpa diskriminasi. Rumah sakit hadir bukan untuk menghakimi, melainkan menjadi tempat bagi setiap orang untuk memperoleh pertolongan, pemeriksaan, pengobatan, konseling, maupun rujukan sesuai kebutuhan. Dukungan dokter spesialis, termasuk layanan bedah digestif sesuai indikasi medis, menjadi bagian dari komitmen RSI dalam memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif.
Ke depan, RSI Siti Hajar juga berkomitmen memperkuat edukasi kepada kelompok usia remaja sebagai salah satu upaya pencegahan sejak dini. Salah satu langkah yang sedang dipersiapkan adalah program roadshow edukasi kesehatan ke sekolah-sekolah dan pesantren sebagai mitra strategis dalam membangun generasi yang sehat, berkarakter, serta memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, menghindari perilaku berisiko, dan menghargai nilai-nilai moral maupun agama sebagai bekal kehidupan. Pertemuan sederhana di hari Sabtu ini menjadi pengingat bahwa komunikasi yang baik tidak selalu harus dilakukan di ruang rapat. Duduk bersama dalam suasana yang teduh, saling mendengar, saling menghargai, dan menyamakan tujuan justru mampu memperkuat komitmen bersama. Dari sinilah lahir semangat gotong royong yang menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan yang terus berkembang.
Pada akhirnya, kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Semoga sinergi yang terbangun hari ini menjadi awal dari langkah-langkah nyata yang semakin kuat dalam melindungi masyarakat Sidoarjo. Dengan kolaborasi, edukasi yang tepat, pelayanan kesehatan yang profesional, serta kepedulian tanpa stigma, setiap tantangan akan lebih mudah dihadapi. Karena sejatinya, menjaga kesehatan masyarakat bukanlah tugas satu pihak, melainkan ikhtiar kita bersama.








